Penularan HIV/AIDS di Kalangan Gay di Pekanbaru Meningkat
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Rabu, 07 November 2018 09:11:24
Penularan HIV/AIDS di Kalangan Gay di Pekanbaru Meningkat
KETERANGAN GAMBAR :

UTUSANRIAU.CO, PEKANBARU - Kasus HIV/AIDS di Kota Pekanbaru dalam kurun waktu tiga tahun mengalami peningkatan. Selain heteroseksual, peningkatan kasus HIV/AIDS ini juga banyak terjadi di kalangan kelompok homoseksual atau penyuka sejenis.

Menurut data dari Dinas Kesehatan Pekanbaru, penyakit yang ditularkan oleh kelompok gay tersebut hingga bulan Agustus lalu sudah mencapai 111 kasus.

Plt Kepala Dinas Kesehatan, Indra Pomi Nasution, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Diskes Pekanbaru, Gustiyanti, mengatakan bahwa kasus HIV/AIDS yang ditularkan kelompok homoseksual meningkat.

"Tahun 2016 jumlah kasus HIV 68 dan AIDS 34. Sementara tahun 2017 kasus HIV 75 dan AIDS 35 kasus. Dan tahun ini hingga Agustus 2018, HIV 75 kasus, AIDS 36 kasus," ujarnya, Selasa (6/11/2018).

Gustiyanti mengatakan, pihaknya terus berupaya melakukan pencegahan agar kasus tersebut tidak menyebar luas. Salah satunya dengan memberikan pelayanan kesehatan, mengedukasi dan memberikan obat.

"Jadi tugas kami adalah bagaimana yang sudah terjangkit tidak menularkan lagi ke orang lain. Berhenti sampai disitu. Tidak ada lagi penularan atau kasus baru. Itu peranan kami," tegasnya.

Masih kata Gusyanti, pihaknya juga menyarankan agar oknum yang telah terpapar kasus HIV/AIDS untuk melakukan konseling dengan mendatangi Puskesmas yang ada di Kota Pekanbaru.

"Pemko Pekanbaru menyediakan pelayanan untuk melakukan konseling sukarela di 20 Puskesmas yang ada di Kota Pekanbaru. Selain itu, untuk pengobatan bisa juga melalui RSUD Arifin Achmad, RS Santamaria, RSJ, Puskesmas Simpang Tiga, Puskesmas Tenayan Raya dan Puskesmas Limapuluh," ujarnya.

Ia menambahkan, pencegahan kasus HIV/AIDS di Kota Pekanbaru harus dilakukan bersama-sama. "Jadi tidak hanya kami saja. Ini juga perlu adanya peranan dari KPA, tokoh masyarakat, LSM dan tokoh lintas agama dan semua pihak," ungkapnya. (Rik/ckp)

 
INFO TERKAIT 
 Selasa, 26 Maret 2019 08:03:45
Diabetes, Jantung Iskemik dan Stroke di Riau Tergolong Tinggi
 Senin, 25 Maret 2019 18:10:25
Menkes RI Sebut Penderita Tiga Penyakit Ini Tinggi di Riau
 Kamis, 21 Maret 2019 02:03:15
Pelayanan Kesehatan Menjadi Perhatian Khusus Pemkab Meranti
 Senin, 18 Maret 2019 02:03:07
Di Puskemas Lubuk Muda Ada Program Dokter Spesialis Bekerjasama Diskes Bengkalis
 Rabu, 27 Februari 2019 03:02:56
Gubri Minta Kroscek Data Ispa Disampaikan Kadiskes
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca