BPS: Nilai Tukar Petani di Riau Masih Defisit
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Kamis, 06 Desember 2018 10:12:42
BPS: Nilai Tukar Petani di Riau Masih Defisit
KETERANGAN GAMBAR :
Kepala BPS Riau, Aden Gultom Pekanbaru.Go.Id

UTUSANRIAU.CO, PEKANBARU - Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, pada bulan November 2018, Nilai Tukar Petani (NTP) di wilayah setempat sebesar 92,90 atau turun sebesar 1,92 persen dibanding NTP Oktober 2018 sebesar 94,73.

"Penurunan NTP ini disebabkan oleh turunnya indeks harga yang diterima petani sebesar 1,64 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani mengalami kenaikan sebesar 0,28 persen dibandingkan bulan sebelumnya," ujar Kepala BPS Riau, Aden Gultom.

Ia mengatakan NTP November 2018 sebesar 92,90 dapat diartikan bahwa petani secara umum mengalami defisit. Defisit ini terutama terjadi pada petani subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPR =86,97),  subsektor peternakan (NTPT= 96,72) dan subsektor hortikultura (NTPH=99,95).

"Sementara itu, subsektor yang mengalami surplus adalah subsektor perikanan (NTNP=114,87 dan subsektor tanaman pangan (NTPP=102,64)," Cakapnya.

Lanjut Aden, penurunan NTP di Provinsi Riau pada bulan November 2018 terjadi pada 3 dari 5 subsektor penyusun NTP, yaitu subsektor tanaman Perkebunan rakyat mengalami penurunan NTP sebesar 3,39 persen, subsektor peternakan yang mengalami penurunan NTP  sebesar 1,17 persen dan subsektor perikanan yang mengalami penurunan NTP sebesar 0,33 persen.

"Sementara itu, subsektor  tanaman pangan dan subsektor hortikultura mengalami kenaikan  NTP masing-masing sebesar 1,17 persen dan 0,09 persen," ucapnya.

Nilai Tukar Petani adalah perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani dan dinyatakan dalam persentase. NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat kemampuan daya beli petani di daerah perdesaan, dengan mengukur kemampuan tukar produk yang dihasilkan/dijual petani dibandingkan dengan produk yang dibutuhkan petani baik untuk proses produksi maupun untuk konsumsi rumah tangga 
petani.

Semakin tinggi NTP dapat diartikan kemampuan daya beli atau daya tukar petani relatif lebih baik dan tingkat kehidupan petani juga lebih baik. (pekanbaru.go.id)

 
INFO TERKAIT 
 Rabu, 20 Februari 2019 05:02:24
Program Peremajaan Sawit Plasma Melalui Kerja Sama Strategis PT Ramajaya Pramukti, BRI Agro, Koperasi Unit Desa (KUD) Makmur Lestari dan BPDK Tingkatkan Kesejahteraan Masayarakat
 Rabu, 20 Februari 2019 12:02:58
Harga TBS Kelapa Sawit di Riau Naik Tipis
 Rabu, 20 Februari 2019 06:02:00
Investor Asing Lirik Kabupaten Siak Tanam Investasi Kilang Minyak 12.000 Barrel/Day
 Selasa, 19 Februari 2019 06:02:45
2019, DJP Riau Kepri Ditarget Rp 17,7 Triliun
 Minggu, 17 Februari 2019 08:02:35
Pemkab Inhu Percayakan Transaksi Non Tunai Kepada Bank Riau Kepri
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca