KAWAN SLI Mengadakan Talk show tentang "AsalUsulSukuPedalamanAkitdanPendidikannya"
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Senin, 24 Desember 2018 09:12:40
KAWAN SLI Mengadakan Talk show tentang "AsalUsulSukuPedalamanAkitdanPendidikannya"
 
KAWAN SLI Mengadakan Talk show tentang "AsalUsulSukuPedalamanAkitdanPendidikannya"

UTUSANRIAU.CO, MERANTI - Dalam rangka mengisi hari libur Dompet Dhuafa Pendidikan, melalui Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesi (Kawan SLI) penempatan SDN 12 Sokop Lokal Jauh Kab. Kepulauan Meranti menggelar Pesta Literasi dengan tema "AsalUsulSukuPedalamanAkitdanPendidikannya" yang dilaksanakan hari Sabtu (22/12/18).

Kegiataninibertujuanuntuk meningkatkan pemahaman dan kesadaranmasyarakatsukupedalamanakitakanpentingnya pendidikan dan juga untuk mengingat kembalisejarahsukupedalamanakit. Kegiatan ini dipandu oleh Munzir dari Konsultan Sekolah Literasi (SLI) dan Luthfi Irawan dari Bakti Nusa. Talk show ini disampaikan oleh Pak Nardi (Kepala Suku), Pak Aheng (Kepala Dusun) dan Ibu Riyati (Tokoh Pendidikan).

Talk show dimulaidengan pengulasan sejarah suku pedalaman akit oleh Pak Nardi dan Pak Aheng. " Sumatera merupakan tempat tinggal bagi suku-suku besar yang mempunyai tradisi budaya terkenal seperti Aceh, Batak, Minangkabau dan Melayu. Selain itu terdapat juga sejumlah suku-suku minoritas dan nyaris tidak dikenal, salah satunya adalah suku pedalaman akit. Sebagian besar suku ini terdapat di dataran rendah Sumatera sebelah timur dimana mereka pernah hidup secara tradisional di kawasan hutan luas diantara sungai-sungai penting maupun rawa-rawa pantai dan pulau-pulau lepas pantai. " Ujar Pak Nardi.

 
 
KAWAN SLI Mengadakan Talk show tentang "AsalUsulSukuPedalamanAkitdanPendidikannya"

Orang Akitatau orang Akik, adalah kelompok sosial yang berdiam di daerah Hutan Panjang dan Kecamatan Rangsang Pesisir di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Sebutan “Akit” diberikan kepada masyarakat ini karena sebagian besar kegiatan hidup mereka berlangsung di rakit. 

Dengan rakit tersebut mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain di pantai laut dan muara sungai. Mereka juga membangun rumah-rumah sederhana di pinggir-pinggir pantai untuk dipergunakan ketika mereka mengerjakan kegiatan di darat, ucap Pak Nardiselakupemateri.

Mata pencaharianpokok orang Akit adalah menangkap ikan, mengumpulkan hasil hutan, berburu binatang, dan meramu sagu. Orang Akit tidak mengenal sistem perladangan secara menetap. Pengambilan hasil hutan yang ada di tepi-tepi pantai biasanya disesuaikan dengan jumlah kebutuhan. 

Penangkapan ikan atau binatang laut lainnya mereka lakukan dengan cara sederhana, misalnya dengan memasang perangkap ikan (bubu). Hasil meramu sagi biasanya dapat memenuhi kebutuhan akansaguselamabeberapabulan.

 
 
KAWAN SLI Mengadakan Talk show tentang "AsalUsulSukuPedalamanAkitdanPendidikannya"

TradisisukupedalamanakitadalahJoget yang dipertunjukkan pertama kali pada tahun 1960-an dalam acara pesta perkawinan. Sejak ratusan tahun lalu hingga sekarang, mereka masih memelihara tradisi Joget. 

Tradisi joget tentu saja terdapat perpaduan antara gerakan tubuh, alat musik, dan juga nyanyian yang dilantunkan serupa syair utuh, sesuai bahasa mereka. Syair tersebut menceritakan kehidupan, alam, dan kebiasaansehari-harisukumereka.

Gelap datang, para penjoget naik ke darat. Lengkap dengan kostum joget: kebaya pendek, kain dan selendang panjang. Mak penjoget pun bersiap. Duduk di sudut ruang. Persis di samping pemusik. Ada gendang pendek dan biola. ‘’Dang kung… dang kung..dang kung…’’ Tarian dimulai. 

Bukan tari biasa. Tangan kiri seiras dengan kaki kiri. Begitu juga tangan kanan, seiras dengan kanan. Maka, penjogettegelek-gelek, tegelek-tegelek.

 
 
KAWAN SLI Mengadakan Talk show tentang "AsalUsulSukuPedalamanAkitdanPendidikannya"

Jogetberlangsung lama. Panjang. Sampai para lelaki berdiri mencari pasangannya. Ikut menari, ikut tegelek-gelek. Terlebih saat selendang panjang disangkutkan ke leher lelaki itu. Semakin tegelek. Kecantikan para penjoget sungguh menawan. Para lelaki tak hendak lepas dari lilitan selendang. Bahkan sampai joget usai, penjoget kembali ke laut, kembali ke rakit, para lelaki turut masuk kedalamlumpurtepian.

Tariiniterciptanya di Desa Sonde maka diberilah nama dengan sebutan Tari Joget Sonde. Sejarah Desa Sonde itu sendiri adalah pada zaman dahulu pohon sonde hanya terdapat di daerah kampung tersebut, di mana getah pohon sonde tersebut bisa dijual dengan harga yang tinggi. 

Karena banyak orang yang pergi mengambil kayu sonde dan daerah tersebut tidak memiliki nama maka masyarakat setempat memberi nama Sonde, ucappakaheng.

Salah satu tradisi lain yang menjadiikonsukupedalamanakitadalahtradisi Perang Air (Cian Cui) dan mandi bunga dimalam tahun baruuntukmembuangsial.

Setelahpengulasansejarahsuku pedalaman akit sudah dipaparkan, talk show dilanjutkan dengan pemaparan mengenai kondisi pendidikan di suku pedalaman akit oleh Ibu Riyati. Puluhan anak-anak suku pedalaman akit yang berada di Dusun Bandaraya, Desa Sokop, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kepulauan Meranti tidak bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama (SMP). 

Pengelola SDN 12 Sokop Lokal Jauh selaku tokoh pendidikan didusun bandaraya, Riyati, mengungkapan, puluhan anak-anak Suku Akit yang tidak melanjutkan sekolah disebabkan tidak adanya sekolah tingkat menengah pertama (SMP) di dusunmereka.

"Dusun kami hanyapunya SD, sebab itu banyak anak-anak yang hanya sampai SD saja. Hampir seratusananak," ujarRiyati.

IbuRiyatimengatakan, sebenarnya ada SMP di desa tetangga, Desa Repan. Namun, akses transportasi dari Dusun Bandaraya, DesaRepansangatjauh.UntuksekolahkeDesa Repan, mereka harus berjalan sekitar 20 km. Tapi tidak semua warga memiliki motor. "Hanya sedikit saja warga yang punya motor, hanya para pekerjajauhsaja," ujarnya.

Sebelum talk show berakhir Ibu Riyati juga memberikan motivasi kepada warga suku pedalaman akit bahwa pendidikan itu penting dan harus diperjuangkan. " Kuncinya adalah berani, kita harus berani melewati batas, walau orangtua hanya lulusan SD atau bahkan tidak sekolah, anak-anak kita harus sekolah, minimal harus sarjana ",ujarnya. (Rls/Mz)

 
 
INFO TERKAIT 
 Jumat, 31 Mei 2019 11:05:25
KEMARI Santuni Kaum Duafa dan Anak Yatim
 Selasa, 28 Mei 2019 10:05:15
PLC Pekanbaru Berbagi Takjil dan Adakan Santunan Anak Yatim
 Senin, 27 Mei 2019 01:05:34
Ramadhan Ceria Bersama BASALERA (BAgasi SALE RAmadhan)
 Rabu, 01 Mei 2019 06:05:57
Asah Kemampuan Komunikasi, Mahasiswa Fikom Taja Public Speaking Festival
 Senin, 22 April 2019 07:04:01
Pendaftaran Audisi Festival IslamicTunes Batubara Resmi Dibuka
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca