Terjatuh, Pekerja Pembangunan Fly Over Arengka Tewas
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Kamis, 10 Januari 2019 10:01:53
Terjatuh, Pekerja Pembangunan Fly Over Arengka Tewas
KETERANGAN GAMBAR :
Terjatuh, Pekerja Pembangunan Fly Over Arengka Tewas / Foto Internet

UTUSANRIAU.CO, PEKANBARU - Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Riau, Yunnan Haris membenarkan adanya kejadian kecelakaan kerja pembangunan fly over Pasar Pagi Arengka Pekanbaru.

"Iya benar. Almarhum sudah dikebumikan di kampung halamannya di Sukabumi (Jawa Barat)," kata Yunnan, Rabu (9/1/19) di Pekanbaru.

Kecelakaan kerja itu, kata Yunnan, tak terlepas dari kelalaian pekerja tersebut. Sebab saat kecelakaan terjadi, pekerja tidak menggunakan safety belt.

"Sebelumnya sudah diingatkan, pakailah safety belt. Tapi nggak mau, karena ribet pakai safety belt itu kan. Akhirnya, terjadilah kecelakaan kerja itu," ujarnya.

Yunnan mengatakan, korban sempat dirawat di rumah sakit selama hampir sepekan. Biaya rumah sakit sudah dibayar Rp14 juta oleh pihak rekanan.

"Termasuk biaya pemberangkatan jenazah ke Sukabumi juga sudah dibayar Rp10 juta. Diantaranya (ke Sukabumi) enggak pakai ambulance tapi naik pesawat," terangnya.

Yunnan menjelaskan, pekerja yang meninggal dunia tersebut bukanlah karyawan PT Dewanto Cipta Pratama melainkan pekerja dari sub kontraktor dari PT Dewanto Cipta Pratama.

Namun, sebut dia, PT Dewanto Cipta Pratama tetap bertanggung jawab atas kecelakaan kerja tersebut. Mulai dari biaya rumah sakit, biaya pengantaran jenazah, hingga santunan keluarga.

"Pada dasarnya, rekanan bertanggung jawab atas musibah ini," cetus Yunnan.

Dari informasi yang diterima, istri korban menolak uang santunan Rp10 juta. Selain rendah, nilai tersebut tidak sesuai dengan Undang-Undang Tenaga Kerja, Yunnan membantah hal tersebut. Menurut dia, pihak rekanan belum membayar santunan sama sekali. Sebab, rekanan bingung, kepada siapa santunan itu akan diberikan.

"Yang jadi persoalan sebenarnya kan uang duka atau santunan. Santunan itu sampai saat ini belum diberikan. Kenapa belum diberikan? Rupanya, anak ini (korban, red) selama di sini, kawin dengan anak sini (Pekanbaru) tanpa ada surat nikah. Dia mengatakan istri, tapi apa buktinya," terangnya lagi.

Rekanan pun tak mau memberikan santunan kepada yang mengaku sebagai istri korban, tanpa ada bukti yang sah. Karena itu, pihak kontraktor menanyakan perihal santunan ini ke keluarga korban di Sukabumi.

"Jadi ditanyalah ke keluarga di sana. Apakah boleh dikasih ke istrinya di Pekanbaru ini. Karena keluarga di sana tak ingin ribut, ya dikasihlah," ujarnya.

Rencananya, santunan itu akan dibayar dalam waktu dekat. Tapi, Yunnan membantah bahwa santunan yang diberikan sebesar Rp10 juta. Menurutnya, nilai santunan yang diberikan lebih dari itu.

"Ini mau dikasih sama rekanan. Tapi jumlahnya bukan Rp10 juta. Lebih lah. Tapi memang belum dikasih," paparnya.

Yunan menambahkan, tak hanya kepada wanita yang mengaku sebagai istri korban, rekanan juga telah memberikan santunan kepada keluarga korban di Sukabumi.

"Keluarga yang di Jawa, ada dikasih juga sedikit. Tapi keluarga di sana, sudah berterima kasih sekali karena sudah diantarkan ke sana," tukasnya.ck/nur

 
INFO TERKAIT 
 Kamis, 20 Juni 2019 06:06:35
Diskominfo Luncurkan Aplikasi Rilis Berita
 Kamis, 20 Juni 2019 04:06:46
Pemprov Terus Lobi Pusat Agar DBH Riau Triwulan IV 2019 tak Tunda Salur
 Kamis, 20 Juni 2019 04:06:59
Polri dan TNI Senam Bersama Rangka HUT Bhayangkara Ke 73
 Rabu, 19 Juni 2019 05:06:40
Petani Desa Teluk Mesjid Dapat Pedampingan LTT Dari Babinsa Koramil 06/SA
 Rabu, 19 Juni 2019 05:06:31
TNI, Polri Bersama Warga Goro Bersihkan Mesjid AR-Rahman
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca