Diabetes, Jantung Iskemik dan Stroke di Riau Tergolong Tinggi
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Selasa, 26 Maret 2019 08:03:45
Diabetes, Jantung Iskemik dan Stroke di Riau Tergolong Tinggi
KETERANGAN GAMBAR :
Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek (dua dari kiri), didampingi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Mimi Yuliani Nazir (tiga dari kiri) menjadi pembicara pada acara Rakerkesda Provinsi Riau di Labersa Grand Hotel Labersa Kecamatan Siak Hulu, Kampar, Senin (25/3)

UTUSANRIAU.CO, PEKANBARU - Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia, Nila Farid Moeloek menyatakan bahwa dari 10 peringkat teratas Penyakit Tidak Menular (PTM) di Provinsi Riau, terdapat tiga penyakit yang peningkatannya sangat signifikan. 

Yaitu, diabetes 358,3 persen, jantung iskemik 241,7 persen, dan Stroke 185,0 persen. Meski begitu, Menkes juga mengingatkan penyakit diabetes, hipertensi, sakit jantung di Riau tergolong tinggi.

Pernyataan ini disampaikan oleh Menkes RI, pada paparannya di acara Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) Provinsi Riau di Labersa Grand Hotel Labersa, Kecamatan Siak Hulu, Kampar, Senin (25/3).

Untuk itu Menkes Nila Moeloek menyampaikan, hal ini terjadi oleh karena perilaku kita intinya, terutama untuk pola makan gizi seimbang. 

"Bukan melarang orang makan, tapi seimbang," kata Nila Moeloek.

Meski begitu, menurutnya Usia Harapan Hidup (UHH) di Riau cukup tinggi yaitu 71 tahun atau sama dengan target nasional. Namun perlu juga dilihat apakah usia segitu, angka umur sehatnya apakah sama juga dengan nasional. 

"Dari UHH hidupnya itu sama dengan angka nasional 71 tahun. Tapi kita memang melihat juga angka umur sehatnya apakah sama juga dengan angka nasional. Jadi angka sakitnya kita itu deltanya sekitar 8 sampai 9 tahun hidup kita dalam sakit sebenarnya," ujar Menkes.

Selanjutnya Menkes juga menanggapi paparan dari 5 kabupaten/kota sebelumnya yaitu, Dumai, Kampar, Bengkalis, Pelalawan dan Kota Pekanbaru.

Menurut Menkes, perlu ada fight (perlawanan) terhadap angka kematian ibu. Seperti yang telah dilakukan Kota Dumai, yang telah berhasil menurunkan angka kematian ibu secara signifikan.

Begitu juga dengan stunting (gagal tumbuh, anak pendek dan sangat pendek/kerdil) di Kabupaten Kampar, karena faktor geografis. Menkes meminta agar jangan Kementerian Kesehatan saja yang terlibat dalam penanggulangannya, tapi juga lintas kementerian. Terkait masalah geografis ini, kita mengharapkan transportasi dari Dinas PU dalam hal ini. 

"Untuk TBC masih seperti nasional, kita juga masih mengejar 30-50 persen, mencari orang yang terkena TBC (Tuberkulosis), " sambung Menkes lagi.

Diakhir pembahasannya, Menkes Nila menyampaikan bahwa Imunisasi Riau cakupannya masih rendah. Menkes mengapresiasi betapa sulitnya tenaga kesehatan mengejar orang untuk imunisasi.

Tapi jika ada penolakan, Menkes meminta untuk dipikirkan kembali, karena jika sudah kena penyakit jangan menyalahkan orang kesehatan, karena mereka sudah melakukan kerja keras.

Hadir dalam kesempatan ini Wakil Gubernur Riau Edy Afrizal Natar Nasution, Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Provinsi Riau Mimi Yuliani Nazir serta para Kadiskes Kabupaten/Kota se-Riau. **mcr/urc

 
INFO TERKAIT 
 Senin, 04 November 2019 07:11:42
Okober, Diskes Pekanbaru Catat 2.300 Penderita TB
 Senin, 14 Oktober 2019 08:10:47
Ratusan Warga Kecamatan Tambang Kampar Manfaatkan Layanan Kesehatan
 Senin, 14 Oktober 2019 07:10:13
Sekdako Pekanbaru Drs H Mohd Noer, MBS, SH, M.Si Minta Pelayanan Kesehaatan di Tingkatkan
 Minggu, 06 Oktober 2019 04:10:09
Capaian Hasil Pelalawan Sehat Pemkab Pelalawan Terima Penghargaan Dari Menkes di NTT
 Jumat, 04 Oktober 2019 06:10:23
Sekda Meranti Dorong Peningkatan Nilai Akreditasi dan Pelayanan Masyarakat
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca