×
Dirintis Sejak 2014, Riau Punya Prodi Pendidikan Dokter Spesialis

kesehatan | Senin, 30 November 2020

. Muhammad Yusuf, SpOG (K), M.Kes Tim penggagas berdirinya pendidikan dokter spesialis

UTUSANRIAU.CO, PEKANBARU -- Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad memiliki dua departemen yang telah secara real menjalankan program studi pendidikan dokter spesialis. Dua prodi tersebut adalah Pendidikan Spesialis Obstetri & Genikologi atau kebidanan kandungan, dan Pendidikan Spesialis Pulmonologi.

dr. Muhammad Yusuf, SpOG (K), M.Kes selaku Wadir medik dan keperawatan di RSJ Tampan Provinsi Riau dan juga anggota tim penggagas berdirinya pendidikan dokter spesialis mengatakan, hal ini telah dirintis sejak 2014. 

Pendidikan mandiri berdiri sejak 2018. Kolegium merestui. Proses ini melalui penilaian, visitasi dari lembaga akreditasi nasional. 

"Bermula dari bekerja sama dengan Departemen Obstetri Genikologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sekitar dua tahun," jelasnya.

Lalu, berlanjut menjalin kerjasama dengan Fakultas Obstetri dan Genikologi Universitas Indonesia (UI). Pada 2018, disapih oleh Fakultas Kodokteran UI untuk bisa mampu melaksanakan secara mandiri.  Kemudian, calon peserta didik dokter spesialis direkrut secara mandiri. Bertahap lima orang, sekarang sudah tahun ketiga. 

“Ini sesuatu yang sangat menunjang dan bukti nyata bahwa RSUD Arifin Achmad itu jadi rumah sakit pendidikan seutuhnya,” ujar Muhammad Yusuf beberapa waktu saat berbincang dengan UTUSANRIAU.CO di kantornya.

Harusnya ini menjadi keyakinan bersama bahwa pengembangan Rumah Sakit (RS) harus berdampingan serta beriringan antara pendidikan dan memberikan pelayanan. 

Dari sisi pelayanan akan menuju kepada suatu standar pelayanan sesuai dengan hasil riset. Karena terapi yang dilakukan adalah berbasis bukti Evidence Based Medicine (EBM).

Kepahaman masyarakat perlu ditingkatkan dan digiring sehingga bisa diberikan pelayanan sesuai dengan standarnya. Tidak diserahkan saja kepada calon residen yang sedang pendidikan. Namun, betul ada pendampingan. Sehingga, berlakulah sistem pemeriksaan bertingkat untuk kepastian pemeriksaan tidak hanya dilakukan satu orang. 

Muhammad Yusuf menjelaskan, biasanya RS lain atau swasta tidak pendidikan itu hanya satu orang dokter. 

Tapi ini diawali dengan pemeriksaan bidan atau perawat, kemudian nanti dilanjutkan dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan calon spesialis, berikut dilaporkan kepada dokter pendamping atau konsulen. 

Kemudian bersama-sama sehingga fungsi atau pemahaman terhadap penyakit pasien jadi sangat komprehensif.

“Inilah sebab RS pendidikan seperti di Singapura menjadi pilihan masyarakat karena mereka yakin bahwa standarnya Evidence Based Medicine berdasarkan suatu riset ilmiah, ini sangat menguntungkan bagi pasien,” tambahnya.

Selain itu, dalam memastikan pengembangan pendidikan tentu menjadi terus meningkat.  Perencanaan strategi terkait anggaran dan seterusnya harus bersama dengan program pendidikan. Diskusi antar Fakultas dan RS penting dilakukan. Salah satu ukurannya tertuang berbagai rencana di dalam sistem aggaran yang terintegrasi dengan rencana pengembangan pendidikan. Ini akan membawa RS lebih cepat maju.

“Bukan sebaliknya, berarti beranggapan bahwa mahasiswa residen atau dokter umum yang sedang pendidikan itu akan merepotkan manajemen RS. Tetapi ditatalah sedemikian rupa saling berintegrasi memberikan manfaat yang lebih kepada masyarakat. Itu tujuan pendidikan,” kata Muhammad Yusuf.

Menurut Muhammad Yusuf, bagi masyarakat Riau dan Pemda Riau ini menjadi suatu kebanggaan. RSUD Arifin Ahmad menjadi ikon daerah dapat kita wujudkan lebih cepat.

Ia juga meyakini Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Tampan akan berkembang sejalan dengan proses pendidikan dan konsep manajemen. Salah satunya perspektif pembelajaran dan pertumbuhan organisasi penting untuk diperhatikan.

 Maka, RS yang melakukan pelayanan dengan melakukan proses pengamatan mau belajar. Pertumbuhannya dilakukan dengan cara ilmiah. Kemudian, mengikuti tata cara dengan RS yang lain maka harusnya RS ini jadi salah satu center pendidikan kedokteran jiwa. 

Yang awalnya mengikat kerja sama menjadi RS jejaring pendidikan kedokteran jiwa terlebih dahulu. Hingga nanti pada waktunya mampu menambah staf dokter kesehatan jiwa sampai bisa mandiri. Ia yakin itu akan mempercepat pertumbuhan pelayanan di RSJ. 

Telah ada Memorandum of Understanding (MOU) dengan RS di solo. Hanya belum ditindaklanjuti dengan residen semester akhir. Harusnya residen semester akhir yang sudah pada level chief bisa datang sebulan, dua bulan, atau tiga bulan, atau bahkan bekerja sama dengan mereka yang telah selesai dalam ikatan kontrak untuk beberapa bulan dalam kerja sama. Terkait dengan pendidikan sebagai RS jejaring adalah asisten dosen yang belum lulus.

“Itu sangat membantu rumah sakit ini,” ungkap Muhammad Yusuf.

Belum ada MOU dengan RS lainnya, sebaiknya itu dilakukan agar membangun sistem hospital dengan RS yang secara manajemen baik, pelayanan komprehensif lengkap, ditambah dengan penyelenggaraan proses pendidikan juga. Sehingga akan memintas atau memotong waktu sampai pada kondisi yang baik.

Salah satu RSJ menurutnya sangat baik adalah RSJ Lawang. Akredetasi bintang 6 dan internasional. Kita ingin belajar, pasti mereka menggunakan satu konsep yang menggiring dan membuat mereka secara komprehensif bisa berpikir. 

Bisa membuat suatu strategi yang diturunkan untuk kegiatan tahunan yang itu nanti bersama-sama stakeholder dapat menjadi ukuran, batasan menilai suatu kemajuan yang dicapai oleh RS atau organisasi. 

Jadi kesepakatan mengenai indikator dan capaian dituangkan berdasarkan satu konsep manajemen yang tertentu. Jadi kita bisa mengadopsi, bisa melihat, buat rencana strateginyanya. Jadi ukuran kinerja RS dari waktu ke waktu. Evakuator menggunakan ukuran/standar tertentu. 

“Sedangkan kita menggunakan standar yang berbeda. Ini yang menyebabkan habisnya waktu. Bukan memberi saran yang membangun tetapi justru ketidaknyamanan dan ketidakpercayaan yang muncul,” tutup Muhammad Yusuf. **no