Polres Inhu berhasil mengungkap kasus pembunuhan gajah

"/> Polres Inhu berhasil mengungkap kasus pembunuhan gajah

" /> Polisi Buru Pelaku Utama Pembunuhan Gajah di Inhu, Dua Tersangka Residivis Sudah Ditangkap | WWW.UTUSANRIAU.CO
× Home Otonomi Pendidikan Ekonomi Nasional Olahraga Teknologi Hukum Lingkungan Religion Kesehatan Politik Kampus Pekanbaru Rokan Hulu Rokan Hilir Kampar Kuansing Pelalawan Bengkalis Indragiri Hilir Indragiri Hulu Meranti Siak Dumai
Polisi Buru Pelaku Utama Pembunuhan Gajah di Inhu, Dua Tersangka Residivis Sudah Ditangkap

hukum | 03 Agustus 2020 | Dilihat : 77

foto Kapolres Inhu didampingi staf memperlihatkan bagian tubuh gajah

UTUSANRIAU.CO, RENGAT- Polres Inhu berhasil mengungkap kasus pembunuhan gajah di Kelurahan Simpang Kelayang, Kecamatan Kelayang, Kabupaten Inhu.

 Polisi menetapkan tersangka, ANR (52) warga Sikakak, Kecamatan Cerenti, Kabupaten Kuansing dan SKR (29) warga Desa Sungai Banyak Ikan, Kecamatan Kelayang, Inhu.

Keduanya ditangkap Satreskrim Polres Inhu dari tempat berbeda.

Selain kedua tersangka, polisi mengamankan barang bukti sepasang gading gajah jantan, senjata api rakitan laras panjang, 29 butir amunisi aktif, tenggkorak gajah dan sejumlah barang bukti lainnya.

Kapolres Inhu AKBP Efrizal S.IK didampingi Kasat Reskrim AKP Febriyandi dan PS Paur Humas Aipda Misran dalam konferensi pers di Mapolres Inhu, Senin (3/8)  menjelaskan, tanggal 15 April 2020 sekitar pukul 15.00 WIB, Bhabinkamtibmas Polsek Kelayang yang sedang melaksakan tugasnya mendapat informasi adanya masyarakat menemukan bangkai gajah jantan di perkebunan warga Kedondong, Kelurahan Simpang Kelayang.

Kejadian itu dilaporkan kepada Kapolsek Kelayang AKP Parlindungan. Kapolsek langsung memimpin tim menuju lokasi untuk melakukan olah TKP. Di lokasi, petugas mendapati bangkai gajah jantan dengan belalai putus.

Pada bagian kepala gajah ada bekas potongan menggunakan benda tajam, namun dua gading masih menempel. Kemungkinan belum sempat diambil pelaku, meski sudah ada bekas potongan atau bekas kampak dari pangkal rahang gajah tersebut.

Atas kejadian itu, Polres Inhu membentuk tim melakukan penyelidikan. Setelah melakukan serangkaian penyelidikan dengan melibatkan BKSDA, petugas berhasil mendapatkan petunjuk yang mengarah kepada ANR alias Ucok.

Petugas melacak dan memburu ANR, hingga Rabu (1/7/2020) sekitar pukul 16.00 WIB, ANR diringkus di Simpang Pematang Ganjang, Kecamatan Sungai Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumut.

Kepada petugas, ANR mengaku telah membunuh gajah tersebut untuk diambil gading dan bagian tubuh lainnya. ANR mengaku tidak sendiri dan menyebut SKR.

Tanpa membuang waktu, dari Sumut petugas kembali ke Inhu dan meringkus SKR yang bersembunyi di kebun miliknya di Desa Paku Satu, Kecamatan Kelayang, Kamis (2/7) sekitar pukul 21.00 WIB.

“Namun ada satu orang pelaku lainnya yang saat ini masih buron alias DPO, yakni ARK yang merupakan pelaku utama. Kita akan terus memburu pelaku. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa diamankan,” ucap Kapolres.

Dikatakan, ada hal menarik dalam kasus ini, ANR merupakan resedivis dalam kasus yang sama di Kabupaten Pelalawan dan Bengkalis tahun 2015. Begitu juga ARK, merupakan teman ANR ketika melakukan kasus serupa di Pelalawan dan Bengkalis.

Kapolres menegaskan, beberapa pasal disangkakan terhadap pelaku. Tersangka SKR pasal 40 ayat (2) Jo pasal 21 ayat (2) huruf a dan b undang – undang RI nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo pasal 55 ayat (1) ke -1 KUHPidana jo Pasal 1 ayat (1) UU Darurat RI nomor 12 tahun 1951.

Bunyi pasal 40 ayat (2) Jo pasal 21 ayat (2) huruf a dan b “Setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup” dengan ancaman hukuman penjara 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta.

Sedangkan pasal 1 Ayat (1) UU Darurat RI Nomor 12 tahun 1951 berbunyi “Barang siapa tanpa hak menyimpan senjata api”, dikarenakan barang bukti berupa senjata api didapat dari tersangka SKR.Dengan ancaman hukuman maksimal seumur hidup.

Sementara, untuk tersangka ANR alias Ucok juga dikenakan pasal 40 ayat (2) Jo pasal 21 ayat (2) huruf a dan b undang – undang RI nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara dan denda maksimal Rp 100 juta.

“Kedua tersangka dan sejumlah barang bukti kini sudah diamankan,” tukasnya. ** Dasmun