China tadinya bisa memberikan masalah bagi Indonesia jika perekonomiannya mengalami kemerosotan. Bahkan, sempat beredar kecemasan China akan mengalami stagflasi, alias melambatnya pertumbuhan ekonomi hingga stagnan dengan inflasi yang tinggi.

"/> Alhamdulillah, Kini China Tak Lagi Jadi Ancaman Besar RI | WWW.UTUSANRIAU.CO
×
Alhamdulillah, Kini China Tak Lagi Jadi Ancaman Besar RI

ekonomi | Minggu, 12 Desember 2021

Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

UTUSANRIAU.CO -  China tadinya bisa memberikan masalah bagi Indonesia jika perekonomiannya mengalami kemerosotan. Bahkan, sempat beredar kecemasan China akan mengalami stagflasi, alias melambatnya pertumbuhan ekonomi hingga stagnan dengan inflasi yang tinggi.

Ketika perekonomian China memburuk, maka Indonesia juga akan terkena dampaknya. Maklum saja, Negeri Tiongkok merupakan pangsa pasar ekspor terbesar Indonesia, begitu juga dengan impor yang besar dari China.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor non-migas Indonesia ke China pada periode Januari-Oktober mencapai US$ 40,6 miliar, mengalami kenaikan hingga 74% dari periode yang sama tahun 2020.

Nilai tersebut berkontribusi sebesar 23% dari total ekspor Indonesia. Kontribusi tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan Amerika Serikat, yakni 11%, yang berada di urutan kedua negara tujuan ekspor RI.

Artinya, China merupakan pangsa ekspor terbesar Indonesia, ketika perekonomian stagnan ada risiko demand akan menurun, yang berdampak pada industri di dalam negeri.

Kemudian impor dari China lebih krusial lagi. Sejak tahun 1990, nilai impor dari China nyaris selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya. Penurunan tajam baru terjadi pada tahun lalu.

Impor dari China berkontribusi sebesar 32% dari total impor non-migas Indonesia periode Januari-Oktober 2021, dengan nilai US$ 43,7 miliar. Total impor dalam 10 bulan tersebut sudah lebih tinggi dari total impor sepanjang 2020 sebesar US$ 39,4 miliar.

Ketika inflasi di China terus merangkak, maka harga produknya tentu akan lebih mahal yang bisa merugikan bagi industri di dalam negeri. Kenaikan harga tersebut juga bisa membuat defisit neraca dagang dengan China semakin lebar, bahkan juga berisiko memicu kenaikan inflasi di dalam negeri.

Bank Indonesia meyakini tidak akan terjadi stagflasi di China seperti dugaan ekonom. Sebab, tanda perbaikan perekonomian sudah mulai terlihat di akhir tahun ini.

"Kami sendiri tetap meyakini bahwa tida akan terjadi stgaflasi di China," ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Hariyadi Ramelan kepada CNBC Indonesia.

Ia menjelaskan, perbaikan ekonomi China tercermin dari indikator PMI manufakturnya yang masuk zona ekspansi. Dimana pada Oktober berada di posisi 49,2 dan di November menjadi 50,1 poin.

Bahkan bank sentral China pun telah menurunkan GWM nya sebesar 50 basis poin (bps). Sehingga ini akan menambah likuditas perbankan di China sekitar 1,2 triliun yuan.

"Ini baru dilakukan 2 hari lalu dan tentunya kami melihat dengan adanya injeksi likuiditas sebesar 1,2 triliun ini akan dukung aktvitas ekonomi China dan juga sekaligus meredakan ketetatan likuiditas di sistem keuangan China," kata dia.

Sementara itu, munculnya varian baru Covid-19 yakni Omicron dinilai tidak akan berdampak besar bagi pergerakan positif yang sudah terjadi di China.

"Kami yakini even ada penyebaran omicron ini akan relatif minimal dengan tingkat vitality terbatas," pungkasnya.***

Sumber : cnbcindonesia.com